, Author

Renovasi rumah sering kali menjadi proses untuk menyesuaikan kembali hubungan antara ruang dan aktivitas penghuni. Ketika kebutuhan berubah, ruang yang sebelumnya sudah terbentuk perlu ditata ulang agar tetap mampu mendukung aktivitas baru tanpa mengurangi kenyamanan hunian.

Hal tersebut menjadi dasar perancangan Adaptive House, sebuah proyek desain renovasi eksterior dan interior rumah tinggal yang berlokasi di Sukoharjo, Jawa Tengah. Dengan luas area desain sebesar 35,37 m², proyek ini mencakup beberapa area utama, yaitu fasad rumah, ruang kerja, dapur, area wastafel, dan kamar tidur.

Pada kondisi eksisting, beberapa ruang belum mampu mengakomodasi kebutuhan aktivitas penghuni secara maksimal. Salah satu permasalahan utama adalah belum tersedianya area kerja khusus untuk mendukung aktivitas Working from Home (WFH), sehingga meja kerja masih ditempatkan di dalam kamar tidur.

Melalui proses desain, Studio R3 melakukan penataan ulang terhadap fungsi ruang yang ada. Pendekatan desain tidak hanya berfokus pada perubahan tampilan, tetapi juga bagaimana setiap area dapat digunakan secara lebih efektif melalui pengaturan layout, furnitur, dan sistem penyimpanan.

Konsep Japandi kemudian diterapkan pada area interior melalui penggunaan material dengan karakter natural, warna-warna netral, serta desain furnitur yang mengutamakan fungsi dan efisiensi ruang.

Baca Juga : TRAPEZOID HOUSE : Rumah Japandi Tropical dengan Strategi Ruang Terbuka pada Lahan Trapesium

Menata Ulang Ruang Eksisting untuk Menjawab Perubahan Kebutuhan

Berbeda dengan pembangunan rumah baru, proses renovasi memiliki tantangan tersendiri karena desain harus beradaptasi dengan kondisi bangunan yang sudah terbentuk.

Pada Adaptive House, kebutuhan akan area kerja menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan layout ruang. Sebelumnya, meja kerja ditempatkan di dalam kamar tidur berukuran kurang lebih 4 x 3 meter. Kondisi tersebut membuat fungsi kamar menjadi bercampur antara ruang bekerja dan ruang beristirahat.

Melalui penataan ulang ruang, area kerja kemudian dipindahkan ke ruang tengah agar memiliki area yang lebih sesuai untuk aktivitas WFH. Perubahan ini membuat kamar tidur dapat kembali difungsikan sebagai ruang privat dengan suasana yang lebih nyaman.

Selain kebutuhan ruang kerja, terdapat beberapa permasalahan lain pada kondisi eksisting. Area tengah rumah yang menggunakan konsep open space masih membutuhkan penyesuaian agar dapat mengakomodasi berbagai aktivitas penghuni.

Desain plafon eksisting dengan perbedaan level tanpa penutup juga menjadi salah satu perhatian dalam proses renovasi. Kondisi tersebut menyebabkan proses perawatan menjadi kurang praktis serta menciptakan celah yang berpotensi menjadi tempat berkumpulnya serangga.

Sementara itu, area wastafel memiliki ukuran yang kurang maksimal dan belum memiliki penyimpanan yang cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini kemudian menjadi dasar untuk mengolah kembali area tersebut agar memiliki fungsi tambahan sebagai tempat penyimpanan.

Mengolah Fasad Rumah melalui Solusi Fungsional dan Visual

Selain area interior, renovasi pada Adaptive House juga mencakup pembaruan fasad rumah. Permasalahan utama pada area eksterior terdapat pada canopy jendela lantai atas yang belum mampu mengatasi tampias air hujan. Selain itu, roster pada area teras mengalami kerusakan sehingga membutuhkan penyesuaian desain.

Studio R3 kemudian melakukan pengolahan ulang fasad dengan menggabungkan aspek fungsi dan estetika. Canopy eksisting digantikan dengan elemen sirip-sirip menggunakan material ACP yang berfungsi sebagai pelindung tambahan terhadap air hujan sekaligus memberikan karakter baru pada tampilan rumah.

Susunan sirip yang repetitif menciptakan permainan ritme pada fasad sehingga bangunan memiliki tampilan yang lebih dinamis. Elemen tersebut juga menjadi aksen utama yang memperkuat identitas visual rumah.

Penyesuaian massa pada bagian kiri fasad dilakukan untuk menciptakan komposisi yang lebih seimbang dan mengurangi kesan datar pada bangunan. Roster pada area teras juga diperbarui dan disesuaikan dengan fasad baru agar seluruh elemen memiliki hubungan visual yang lebih harmonis.

Pada area teras, penambahan bench memberikan fungsi tambahan sebagai tempat duduk untuk menerima tamu sekaligus memperkuat area transisi antara ruang luar dan dalam.

Baca Juga : Mengganti Kloset di Rumah? Berikut Hal yang Perlu Diperhatikan

Menciptakan Ruang Multifungsi pada Area Tengah Rumah

Area tengah menjadi bagian utama dalam proses penataan ulang Adaptive House. Dengan konsep open space, ruang ini dirancang untuk mengakomodasi beberapa aktivitas sekaligus, mulai dari bekerja, memasak, hingga aktivitas sehari-hari penghuni.

Area kerja ditempatkan pada ruang tengah dengan posisi yang terintegrasi bersama area dapur. Pendekatan ini memungkinkan aktivitas bekerja berlangsung lebih nyaman tanpa mengganggu fungsi ruang privat lainnya.

Pada area dapur, kitchen set dirancang hingga mencapai plafon untuk memaksimalkan kapasitas penyimpanan. Meja island dan mini bar juga ditambahkan sebagai elemen multifungsi yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas, seperti persiapan makanan, makan informal, maupun aktivitas bersama keluarga.

Penyesuaian juga dilakukan pada desain plafon ruang tengah. Bentuk plafon disederhanakan agar lebih mudah dalam proses perawatan serta menghilangkan area terbuka yang sebelumnya kurang efektif.

Melalui perubahan tersebut, ruang tengah tidak hanya menjadi area penghubung antar ruang, tetapi juga menjadi ruang utama yang mampu mendukung berbagai aktivitas penghuni.

Optimalisasi Penyimpanan pada Hunian dengan Luasan Terbatas

Salah satu tantangan dalam proyek Adaptive House adalah bagaimana menyediakan kebutuhan penyimpanan tanpa membuat ruang terasa penuh. Pendekatan desain dilakukan dengan memanfaatkan furnitur sebagai bagian dari solusi penyimpanan. Area wastafel didesain ulang dengan ukuran yang lebih besar serta dilengkapi kabinet penyimpanan untuk kebutuhan sehari-hari.

Selain penyimpanan perlengkapan mandi dan kebutuhan rumah tangga, area tersebut juga dilengkapi ruang khusus untuk menyimpan alat pel elektrik dan barang lainnya. Pendekatan serupa diterapkan pada kamar tidur. Setelah area kerja dipindahkan, tata letak furnitur disusun ulang agar menghasilkan sirkulasi yang lebih lega. Penyesuaian posisi tempat tidur, nakas, dan lemari dilakukan agar ruang dapat kembali memiliki fungsi utama sebagai tempat beristirahat.

Selain area interior, bagian belakang rumah juga dimanfaatkan sebagai area penyimpanan tambahan untuk menyimpan tangga serta peralatan pertukangan sehingga area rumah tetap lebih tertata.

Baca Juga : Peace · Visa for Life Theme Museum: Narasi Sejarah dalam Bentuk Arsitektur

Pendekatan Japandi untuk Ruang yang Hangat dan Efisien

Konsep Japandi diterapkan pada interior Adaptive House sebagai pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan rumah dengan luasan terbatas. Perpaduan karakter sederhana dari desain Jepang dan kehangatan gaya Skandinavia diterapkan melalui pemilihan material, warna, serta bentuk furnitur.

Material dengan tekstur kayu berwarna muda dipadukan dengan warna solid seperti putih dan beige untuk menciptakan suasana ruang yang lebih hangat dan terasa lega. Berbagai furnitur dirancang dengan mempertimbangkan fungsi penyimpanan, mulai dari kitchen set, meja island, meja kerja, kabinet wastafel, hingga furnitur kamar tidur.

Material multiplek dengan finishing HPL digunakan pada beberapa elemen interior, seperti HPL Taco Sol Cherry TH 361 H, Taco Flour White TH 062 SA, Creme Fresco Gloss TH 922 JG, serta top table dengan karakter batu berwarna beige. Kombinasi material tersebut membangun kesatuan visual sekaligus mendukung kebutuhan fungsional penghuni.

Perspektif R3

Setiap rumah memiliki kondisi eksisting dan kebutuhan penghuni yang berbeda. Pada Adaptive House, proses desain dilakukan dengan menata ulang ruang yang sudah ada agar mampu mengikuti perubahan aktivitas penghuni.

Melalui pengolahan fasad, penyesuaian layout, serta pemanfaatan furnitur sebagai elemen penyimpanan, rumah ini dirancang menjadi hunian yang lebih efektif dan nyaman digunakan sehari-hari.

Bagi Studio R3, renovasi bukan hanya tentang memberikan tampilan baru pada bangunan, tetapi bagaimana setiap ruang dapat merespons kebutuhan penghuni dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik.

Informasi Proyek

Nama Proyek : Adaptive House
Lokasi : Sukoharjo, Jawa Tengah
Nama Klien : Pak Adrian
Luas Area Desain : 35,37 m²
Area Desain : Fasad, Area Kerja, Dapur, Area Wastafel, Kamar Tidur
Konsep Desain : Japandi

Architectural Design, Interior Design, Residential, Residential