Proyek R3 Studio kali ini adalah rumah Ibu Ika yang berlokasi di Blora – Arsitek Blora. Konsep hunian ini mengusung konsep rumah tumbuh yang akan terbangun secara bertahap. Dengan demikian, konsep ini cocok bagi para pemilik lahan baru yang masih memiliki finansial terbatas sehingga proses pembangunan tetap dapat berjalan.

Lahan dari proyek ini terletak di sebuah komplek perumahan yang masih baru dan belum cukup padat oleh penghuni. Namun, sisi kanan dan kiri sudah mulai terbangun oleh rumah-rumah tetangga.

Baca juga: Dekorasi Ruang Keluarga Ekletik Perpaduan Gaya Klasik dan Scandinavian – LID HOUSE

Kami mendapati kasus menarik dan cukup menantang dari proyek ini, pertama terkait dengan posisi lahan dan kedua terkait dengan budget. Kedua kasus tersebut membutuhkan proses diskusi dan analisis yang matang sehingga desain yang kami hasilkan dapat memuaskan keinginan klien dan juga ideal secara arsitektural.

Posisi lahan: kasus pertama proyek ini adalah posisi lahan yang rawan terjadi banjir. Seringkali di wilayah ini terdapat genangan air yang mungkin dapat mengganggu kawasan. Hal tersebut terjadi karena minimnya daya resap tanah dan kekuatan daya resap yang tidak optimal.

Lahan yang dimiliki oleh Ibu Ika menghadap ke sisi Selatan dengan dua sisinya yang terbuka karena berada di area hook. Sisi belakang atau Utara cukup dekat dengan salah satu aliran semacam selokan kecil sebagai irigasi yang uniknya, lebih tinggi dibandingkan dengan site lahan Ibu Ika.

Dengan kondisi tersebut, Ibu Ika memiliki kekhawatiran jika suatu saat tanggul bocor akan ada kemungkinan air masuk ke dalam rumah. Maka dari itu, kami memberikan strategi desain dengan membagi area menjadi dua elevasi. Akan tetapi, strategi ini memang membutuhkan banyak urugan sehingga dapat membantu menghambar masuknya air ke area hunian.

Baca juga: Nggak Bakal Bosan di Perpustakaan Minimalis

Budgeting: Selain kondisi lahan tersebut, Ibu Ika juga mengungkapkan bahwa ada kebutuhan budgetting tertentu untuk pembangunan ini. Sehingga kami memilih konsep rumah tumbuh sebagai alternatif. Dalam hal ini, rumah akan dibangun secara bertahap untuk menyesuaikan dengan anggaran yang ada.

Konsep rumah tumbuh tersebut kami bagi menjadi dua tahap dengan aktivitas yang dikelompokkan berdasarkan prioritas kebutuhan penghuni. Kami dapati bahwa kebutuhan ruang klien tidak terlalu banyak. Di antaranya adalah 2 kamar tidur, ruang tamu, dapur, ruang makan, ruang servis, kamar mandi, dan garasi untuk dua unit mobil.

Selanjutnya masuk ke tahap pembangunan. Berdasarkan ukuran lahan yang memanjang ke sisi Timur dan Barat, maka tahap pembangunan dibagi menjadi dua. Satu zona dibiarkan memiliki ketinggian level lantai hampir mendekati jalan. Sedangkan zona lainnya memiliki ketinggian elevasi 1 meter sehingga tampak seperti rumah panggung.

Area dasar akan digunakan sebagai carport atau garasi mobil sehingga aksesnya lebih mudah dari sisi jalan. Kami membuka gerbang ke sisi Barat untuk mempermudah manuver mobil.

Sisi belakang carport kami naikkan sebagai rumah tinggal tahap 1 dengan ruangan 1 kamar tidur ukuran standar, dapur, ruang tamu, 1 kamar mandi, ruang cuci jemur, dan halaman terbuka hijau. Halaman ini terkoneksi dengan kamar tidur dan area ruang tamu. Dengan begitu, area ruang tamu mempunyai bukaan ke taman depan, dan kamar tidur memiliki akses ke taman samping.

Baca juga: Interior Kelas SMK N 1 Temanggung

Hal tersebut menjadi salah satu strategi untuk memblokir sinar matahari Barat sehingga bukaan diarahkan ke sisi Selatan dan Timur untuk memberikan kenyamanan pada siang hingga sore hari. Dengan begitu, paparan sinar matahari tidak akan masuk secara langsung ke dalam ruangan. Meskipun begitu, kondisi ruang tetap terang pada saat siang hari tanpa harus membutuhkan cahaya lampu, khususnya untuk area ruang tamu dan kamar tidur.

Untuk penataan ruang tamu dan dapur, disatukan menjadi konsep open plan karena lahan terbatas. Hal tersebut tidak menjadi masalah karena klien tidak membutuhkan area yang seluruhnya membutuhkan privasi penuh. Klien juga prefer memiliki ruangan yang lega meskipun luasannya tidak terlalu besar.

Bangunan tahap dua elevasinya dinaikkan ke lantai elevasi lantai dua. Floor to floor dari lantai dua ke lantai 1 mirip dengan mezanine. Akan tetapi, floor to floor dari carport tampak seperti rumah dua lantai. Pembangunan tahap kedua lokasinya di atas carport sehingga ketika tahap pembangunan dilanjutkan, fungsi hunian tahap 1 bisa digunakan semestinya karena tahap 2 hanya memanfaatkan atas carport. Denga begitu, hanya fungsi carport atau area parkir yang harus dipindahkan untuk sementara waktu.

Baca juga: Rumah Toko Modern Kontemporer Berbujet – ADK House

Pembangunan tahap kedua tidak membutuhkan penambahan ruangan yang terlalu banyak, hanya saja areanya lebih privat karena merupakan area yang hanya dapat diakses oleh penghuni. Di antaranya adalah master bedroom dan kamar mandi dalam, living room besar dan balkon di salah satu sisinya.

Balkon diletakkan di sisi Barat sebagai ruang transisi dan naungan tritisan yang lebih panjang ke living room karena menghadap ke Barat. Karena terdapat bukaan, kami mencover dengan secondary skin kisi-kisi dari WPC sebagai fasad sekaligus aksen bangunan. WPC juga diterapkan pada beberapa bagian lain seperti plafon dan pintu masuk utama.

Berkaitan dengan bentuk, kami tidak memberikan terlalu banyak variasi. Kami mengutamakan bentuk yang simpel dan elegan dengan atap pelana segitiga. Hal tersebut kami pilih dengan mempertimbangkan efisiensi, konfigurasi atap, dan material, sehingga anggaran tidak membengkak untuk pembangunan.

Baca juga: Cafe Nyaman dan Kekinian Bergaya Industrial – ANTARA.CO

Pada bagian fasad paling depan, kami menempatkan sedikit motif sebagai aksen utama yang menghadap ke Selatan pada pelana. Kami menggunakan roster tempel motif piramid. Hal tersebut kami lakukan sesuai dengan masukan dari klien sekaligus karena area tersebut dirasa memerlukan sedikit polesan atau hiasan.